Selasa, 13 Maret 2012

PERJODOHAN bag 2

“Hai Om Indra.” Sapa Ghany. “Apa kabar ?..” Lanjutnya sambil mengulurkan tangannya.
“Om Baik.” Sahut Indra membalas uluran tangan Ghany. Mereka pun bersalaman erat. Lalu Ghany pun menyalami Ratih yang berdiri di sampingnya. “Apa kabar tante ?..” Tanyanya pada Ratih.
“Tante baik, terima kasih.” Sahut Ratih. “Wah sekarang kamu sudah menjadi pemuda tampan ya, Ghany...”
Ghany tersenyum kecil mendengar pujian Ratih.
“Sid, kamu kenapa ?..” Tanya Ratih ketika melihat putrinya terlihat terkejut menatap Ghany.
Dan saat itu Ghany baru menyadari kalau dia berhadapan dengan Sidney.
Ghany baru menyadari ketika berhadapan dengan Sidney.
“Kamuuuu..” Seru mereka berbarengan saling menunjuk.
Samboedo bergantian menatap mereka. “Kalian..... saling mengenal ?” Tanyanya.
“Ayah, ini adalah klien Pak Tyo, Ghany Samboedo.” Jelas Sidney dengan ekspresi kesal.
“Jadi kalian sudah saling kenal.” Ujar Istri Samboedo.
Keduanya mengangguk.
“Iya, perusahaan Pak Tyo dan Pak Ghany saling bekerjasama.” Sidney mempertegas kalimatnya.
“Dunia ini ternyata sempit juga. Kemana-mana, pasti bertemu Pak Ghany. Sabtu kemarin kami sama-sama di undang Pak Tyo untuk makan malam. Sekarang ketemu lagi. Aku tidak percaya.” Ucap Sidney kesal kemudian ia duduk pada salah satu sofa, meraih majalah dan membacanya.
Ghany mengacuhkan ucapan Sidney, ia malah menatap Indra dan bertanya kepadanya
“Om, kemana aja ?.. Sudah lama tidak bertemu.”
“Om tidak kemana-mana, Ghany. Disini-sini saja.” Sahut Indra sambil tersenyum.” Ah iya, kita tidak bertemu kurang lebih 19 tahun tapi syukurlah kamu masih mengenal Om.”
“Tentu saja Om, kaliankan sahabat dari kecil.”
Sidney hampir tidak mendengarkan pembicaraan mereka hingga makan siang.
Dimeja makan semuanya sibuk berbicara kecuali Sidney.
Setelah makan siang mereka melanjutkan pembicaraan diruang keluarga.
“Sidney, kamu cantik sekali. Apakah sudah punya pasangan ?..” Tanya isteri Samboedo.
“Belum Tante. Masih lama. Usiaku baru 18 tahun. Aku masih ingin menikmati masa mudaku.” Jawabnya senang.
“Hahahahaa.... benar sekali.” Ujar Samboedo.
“Oh iya, kalian lebih baik meninggalkan kami. Kami ingin temu kangen nih. Ghany ajak Sidney.” Pinta sang Ayah.
“Ayah ini, aku kan juga sudah lama tidak bertemu dengan Om Indra, masa disuruh keluar.” Ucap Sidney kesal.
“Hayolah.” Pinta sang Ibu
“Ayolah Sidney. Kita tinggalkan saja mereka berempat.” Ucap Ghany tiba-tiba sambil menarik tangan Sidney.
Sidney yang tidak menduga tangannya akan ditarik Ghany mencoba melepaskan tangannya, tapi Ghany memeganginya dengan erat dan menariknya keluar dari ruang keluarga. Membuat Sidney tidak punya pilihan lain selain mengikuti Ghany.
“Mereka cocok juga.” Ucap Mira.
“Iya.” Sahut Ratih menyetujui. “Walaupun Ghany usianya 35 tahun tapi dia tidak terlihat begitu tua.”
Samboedo dan Indra mengangguk setuju.
Lalu mereka berempat pun membicarakan anak-anak mereka.
Sementara dilain tempat...
“Wah indahnya.” Seru Sidney sambil memegang bunga-bunga yang ada ditaman. Ia menundukan kepalanya dan menciumi bunga-bunga itu. “Hmmm... harum..” gumamnya senang. Puas mengagumi bunga-bunga, Sidney mengedarkan pandangannya melihat pemandangan disekitarnya.
Ghany yang berdiri, tak jauh dari Sidney, dengan asyik memperhatikannya. Dia tersenyum-senyum ketika melihat Sidney tampak senang.
“Taman ini pasti punya tante.” Ucap Sidney dalam hati. “Benar-benar indah.....”
Ghany hanya berdiri diam memperhatikan Sidney. Ia tidak mau mengganggunya. Mereka berdua hampir tidak berbicara.

Satu jam kemudian....
“Apa kau sudah puas mengagumi taman ini ?..” tanya Ghany tiba-tiba “Kau ingin kita tetap di sini atau masuk ke dalam ?..”
Sidney menoleh menatap Ghany. “Bapak masuk saja dulu. Nanti Saya menyusul.” Jawabnya.
“Kau jangan panggil aku bapak. Ini bukan kantor.” Pinta Ghany
“Maaf, Pak. Saya tidak akan mengubahnya.” Sahut Sidney cuek kemudian ia kembali mengalihkan pandangannya pada pemandangan disekelilingnya.
Ghany tidak berkata apapun. Ia hanya berdiri diam saja, menunggu Sidney selesai mengagumi taman Ibunya.
Beberapa saat kemudia, Sidney pun masuk ke dalam di ikuti Ghany.


“Kamu dari mana sayang ?” tanya Mira ketika melihat Sidney masuk.
“Aku dari taman tante.” Jawab Sidney sopan. “Tante punya taman yang luas dengan bunga-bunga yang cantik. Saya senang berada disana.”

“Apa saja yang kalian bicarakan ?”  tanya Mira ingin tahu
“Tidak ada.” Jawab Sidney santai. “Kami hanya menikmati keindahan taman.”
“Kalian tidak mengobrol ?..” Tanya Mira lagi.
Sidney hanya menggeleng.
“Yah wajarlah.” Sahud Indra tiba-tiba “Sidney kan tidak pernah bertemu dengan Ghany. Dan ketemunya hanya pada saat di kantor. Jadi wajar saja dia canggung.”
“Ayah, aku tidak canggung.” Gerutu Sidney kesal “Sejak kapan aku punya rasa canggung. “
“Sayang, kamu jangan marah.” Ucap Ratih.
“Aku tidak marah, Bu.” Sahut Sidney kemudian ia mendekati Indra, “Ayah, apakah sudah selesai kangen-kangenannya dengan Om Sam ?.. Kalau sudah kita pulang yuk.” Ajaknya manja sambil memeluk tangan Ayahnya.
“Wah, kamu buat tante iri Sidney.”
“Iri kenapa tante ?” tanya Sidney sambil menatap Mira.
“Anak tante tidak pernah bersikap manja. Dia selalu seperti itu. Diam dan cuek.” Sahut Mira sambil melirik Ghany.
“Ibu, kalau aku perempuan, aku tidak akan melakukan hal yang sama seperti Sidney.” Jawab Ghany kesal.
“hhhhahahhaaaa...” Semuanya pun tertawa mendengar jawaban Ghany.

“Ghany, sekali-sekali kamu main ke rumah Om. Rumah Om dekat dari sini.” Ajak Indra kemudian.
“Iya Om. Kapan-kapan.” Jawab Ghany sopan.
“Ayah, ayo.” Ucap Sidney manja pada Ayahnya sambil menarik-narik tangan Ayahnya.
“Sidney, kamu nda malu didepan Om dan Tante.” Tegur Indra.
“Tidak.” Geleng Sidney cuek. “Kenapa aku harus malu ? Aku bermanja-manja dengan Ayahku kok.”
Ucapan Sidney mengundang senyum semua orang yang ada di sana.
“Baiklah. Ayo.” Ucap Indra akhirnya.
Mereka pun berpamitan.

***
Kedua orang tua Ghany menatap kepergian Sidney dan orang tuanya.
“Sidney Cantik ya Yah.” Ucap Mira pada suaminya.
“Iya bu.” Angguk Samboedo menyetujui.


***
Sidney bekerja di perusahaan baja tersebut sudah dari 1,5 tahun. Kerjasama dengan perusahaan sudah selesai. Sidney sangat senang.
“Bapak, ada undangan untuk para perusahaan baja.” Ucap Sidney sambil memberikan undangan Tyo.
“Ok. Nanti kamu ikut saya ya. Dandan yang Cantik.” Gurau Tyo. “Siapa tahu kamu menemukan jodohmu disana.” tambahnya.
“Aku ini masih 19 tahun Pak. Tapi boleh juga. Aku mau cari yang kaya saja.” Jawab Sidney kesal.
“Supaya kamu tidak kerja lagi ya.”
“Bukan. Supaya bisa jadi bos.” Sahut Sidney sambil terkekeh.
“hahhaaa.. Bisa aja kamu.” Ujar Tyo. “Jangan lupa undangannya 2 minggu lagi Sidney.”
Sidney menganggukkan kepalanya.

***
Sidney berjalan sendirian mencari pakaian yang pantas untuk undangan nanti. Tiba-tiba dia tertarik salah satu pakaian dibutik tersebut.
Sidney mencoba pakaian tersebut. Pakaiannya sedikit terbuka tapi sopan dan elegan.
“Mba....” Ucapnya sambil keluar dari kamar pas. Ucapannya langsung terhenti ketia ia melihat Ghany yang baru keluar dari kamas pas yang persis disebelahnya.
Sidney menyapa Ghany hanya dengan menganggukkan kepalanya kemudia ia menatap SPG sedang berdiri di dekatnya. “Mba, ini cocok untukku ?”
SPG tersebut tercengang melihat pakaian yang digunakan oleh gadis cantik itu. “Cocok sekali.” Ucap SPG itu terbengong-bengong.
“Maaf, Mba....” sela Ghany “sepertinya ini kebesaran untukku.”
“Aku yang ini ya mba.” Sidney menukar pakaiannya kembali dan membayarnya. Kemudian ia melihat Ghany yang sibuk memilih jas yang pas untuk tubuhnya. Ia pun mendekati deretan jas dan memilih salah satu “Sepertiny ini cocok untuk anda Pak Ghany.” Ucapnya sambil memberikan jas coklat terang dengan coklat susu  silver.
Ghany mengambilnya dan mencobanya. “Ok. Pas.”
Sidney langsung berlalu.
Begitu Ghany selesai dia sudah tidak melihat Sidney.



***
Akhirnya menonton juga. Enaknya menonton sendirian. Sidney menonton “Twilight-Breaking Dawn-Part 1”..
Bioskopnya penuh juga. Sebelahku kosong. Asyik. Ujar Sidney senang.
Filmpun dimulai.
Sidney merasa disebelahnya ada yang duduk tapi dia tidak melihat.
“Wah tampan dan sexy’ny Jacob.” Ujar Sidney sambil tersenyum
“Hiihhiiii..” tawa orang disamping
Sidney menoleh dan
“Kamu...” Sidney tersentak disampingnya ada Ghany
“Ternyata itu pria favoritmu ya. Boleh juga.” Ucap Ghany sambil terkekeh.
Sidney kesal tapi masih menikmati tontonannya. Dia tidak mau menghiraukan Ghany.
“Jacob.” Ujarnya perlahan.

Setelah selesai Sidney langsung berlalu meninggalkan Ghany.
Ghany memandang kepergian Sidney “Sepertinya dia tidak menyukaiku, menyapaku juga tidak.” Gumamnya.


***
Tibalah untuk menghadiri undangan para perusahaan baja tersebut.
Hotel ini sangat penuh. Pikir Sidney ketika ia tiba bersama Tyo di hotel tempat pesta berlangsung.
Mereka sampai tepat pada waktunya. Dan ternyata para undangan juga sudah banyak yang tiba.
“Kenapa semua orang melihatku ?.. Apakah ada yang salah dengan pakaian atau make up ku Pak ?.. “ Tanya Sidney dengan nada heran pada Tyo.
Tyo memandangi sekretarisnya, seolah-olah sedang menilainya. “Hmm... Tidak” Ucapnya. “Mereka pasti menyukai penampilanmu karena kamu cantik.” Lanjutnya memuji.
“Ah.... Bapak bisa saja.” Sahut Sidney malu.
“Oh iya, kamu nanti boleh berbaur dengan yang lain. Tidak apa-apa.” Ucap Tya lagi.
Sidney mengangguk dan mengikuti atasannya. Sidney hampir mengenal para undangan yang hadir, jadi dia tidak terlalu canggung.
“Halo Sidney.” Sapa seseorang sehingga membuatnya menoleh. “Hai Om Sam.” Sahut Sidnye “Ups maaf maksudku Pak Sam.” Ralatnya sambil  tertawa.
“Tidak apa. Kamu boleh memanggilku Om.” Ucap Samboedo. “Cantik sekali kamu malam ini, Sidney.”
“Terima kasih Om. Om juga tampan.” ucap Sidney balas memuji.
“Mau berdansa dengan Om.” Ajak Samboedo.
“Eh,, ?” Sidney terperangah dengan ajakan Samboedo. “Euh.. tidak, Om. Saya tidak bisa berdansa.”
“Tenang saja.” Ucap Samboedo. “Kamu tinggal mengikuti gerakan Om.” Sambil memegangi tangan Sidney.

Mereka berdua pun berdansa dan semua mata memandang melihat keduanya.
“Om, kita dilihat semua undangan.” Bisik Sidney malu.
“Haahahhaa....” Tawa Samboedo.. “Biarkan saja. Semuanya iri padaku.”
Sidney mengikuti gerakan Samboedo. Setelah 1 lagu habis.
“Boleh saya berdansa dengan anda Nona Sidney.” Pinta Ghany yang mengejutkan dirinya persis dibelakang Sidney.
“Tampan sekali. Inikan jas pilihanku.” Ucap Sidney dalam hati.
“Silahkan.” Ucap Samboedo. Lalu ia menoleh menatap Sidney, “Om akan meninggalkan kamu Sidney.” Ucapnya pada Sidney kemudian menyerahkan tapak tangan Sidney ke puteranya.
“Kamu cantik sekali malam ini.” Puji Ghany sambil memegang tangan Sidney.
Sidney hanya diam saja mendengar pujian Ghany.
“Kenapa kau diam saja ?.. Dengan Ayahku kau tertawa.” Guraunya sambil berdansa.
Sementara itu, tanpa mereka sadari, puluhan pasang mata menatap mereka. “Mereka memang pasangan yang cocok.....”
Namun ada juga yang terlihat heran melihat Sidney dan Ghany berdansa. “Lho, Pak Ghany kan selama ini tidak pernah mengajak dansa seorang wanitapun. Berbicara juga tidak pernah. Apakah dia menyukai gadis itu?.”

“Kenapa mereka ramai membicarakan kita ?” Tanya Sidney
“Itu karena aku tidak pernah mengajak seorang gadis berdansa ataupun berbicara.”
Sidney melihat wajah yang berbeda dengan Ghany. Dia begitu ramah dan tampan.
“Kau bercanda. Aku tidak percaya.” Sidney Menggeleng..
“Tanya saja Ayahku.” Sahut Ghany.
Mereka terus berdansa. Ghany menarik pinggang Sidney dan wajah mereka terlihat sangat dekat. Ghany terlihat santai tapi tidak dengan Sidney. Dia malah gugup.
Wangi sekali. Pikir Sidney dalam hati. Jantungnya berdebar dengan cepat.
Sidney memejamkan matanya menikmati aroma wajah Ghany dan itu tidak luput dari penglihatan Ghany tapi dia tidak mau mengganggunya.

1 lagu pun berlalu. Mereka lalu berpisah.

“Apa-apaan ini. Kenapa aku jadi terpukau olehnya. Aku harus segera membaur. Melupakan hal yang barusan terjadi.” Ujar Sidney dalam hati. Ia pun segera bergabung dengan seluruh para undangan.

Tak terasa 2 jam berlalu dan Sidney akan pulang tapi tidak bareng dengan Atasannya. Dia berencana menggunakan taksi.

“Kamu tidak bawa mobil atau dijemput ?” tanya Samboedo
“Ah tidak Om.” Sahut Sidney tersentak. “Saya naik taksi saja.” Sambungnya buru-buru.
“Sebentar. “ Cegah Samboedo. Ia menarik Ghany yang sedang asyik berjalan.
“Ada apa Ayah, jangan menarikku.” Ucap Ghany kesal.
“Kamu antar Sidney sampai rumah.“ pinta sang Ayah.
“Apa ?..”
“Iya, cepetan. Ini sudah malam.” Ucap Samboedo sambil melototi sang putera.
Dengan kesal Ghany mengangguk dan menatap Sidney. “Kamu tunggu sebentar di sini. Aku ambil mobil dulu.” Ucapnya kemudian tanpa menunggu jawaban Sidney diapun berlalu.
“Om, tidak usah. Saya akan naik taksi.” Ucap Sidney setelah kepergian Ghany.
“Tidak apa-apa. Tenang saja.” Sahut Samboedo ramah. Ia pun mengajak Sidney ke depan lobby untuk menunggu kedatangan Ghany.
Tak menunggu lama. Sebuah mobil merceder silver mendekat dan berhenti di depan mereka. Ghany bergegas turun dan membukakan pintu untuk Sidney.
“Hati-hati ya Sidney. “ Ucap Samboedo.
“Iya Om. Terima kasih.”

***
Mereka terdiam didalam mobil.
“Maaf merepotkan Anda Pak Ghany. “ Tutur Sidney canggung.
“Tidak apa-apa.” Ujar Ghany kaku sembari mengendarai kendaraan tersebut.

Mereka terdiam kembali. Sidney memperhatikan wajah Ghany yang tampan namun dingin..Dinginnya wajah Ghany mengalahkan dinginnya AC mobil.

Sidney tidak betah terlalu lama bersama Ghany. “Dia mengantarku karena terpaksa”. Keluh Sidney dalam hati.

Mobil terus melaju membelah kemacetan Jakarta yang menggila, mendadak  “Hentikan mobilnya.” Pinta Sidney tiba-tiba, namun Ghany tidak menghiraukannya.

“Aku bilang hentikan mobilnya.!!!” Hentak Sidney kesal. Ghany menghentikan mobilnya mendadak karena kaget mendengar suara yang keras. Sidney kemudian membuka pintu mobil dan keluar “Terima kasih. Aku sampai disini saja. ”.. Sidney menutup mobilnya dan langsung menghentikan sebuah taksi dijalan. Kemudian menghilang diantara banyaknya mobil.

Ghany langsung membasuh wajahnya dengan kedua tangannya.. Ghany merasa kesal dan ingin marah tapi Ghany mengurungkan niatnya. Tidak lama Ghany menjalankan mobilnya menuju rumah..


***
“Kemarin kamu mengantar Sidney sayang ?”
“Iya Bu. Tapi tidak sampai rumahnya” jawabnya santai.
“Apa ??..” Seru Mira terkejut. “Mengapa kamu tidak mengantar sampai rumahnya..”
“Dia tiba-tiba minta turun dari mobilku dan langsung pergi dengan taksi, Bu.”
“Tapi.. kamu kan bisa melarangnya untuk turun dari mobilmu.”
“Itu-“
“Kamu ini bagaimana sih. Masa membiarkan anak gadis pulang sendiri.”
“Ib-“
“Bukankah semalam kamu berdansa dengannya ?...” Potong Mira lagi, “Lalu kenapa-­­“
“Ibu.. Ibu tahu dari mana kalau aku...” tanya Ghany cepat tapi ucapannya terputus “Ah pasti Ayah yang bilang.”
“Jadi benar kan kalau itu berdansa dengannya ?”
“Itu...”
“Jangan mengelak. Ibu punya fotonya.” Ucap Mira sambil mengeluarkan sebuah foto dari saku dasternya dan menunjukkannya pada Ghany.
Dengan cepat Ghany mengambil foto dari tangan ibunya.
“Wah curang.” Seru Ghany. “Ini tidak boleh dibiarkan.” Lanjutnya hendak merobek foto tersebut tapi dengan sigap, Mira merebutnya kembali, “Tidak boleh. Sini... Kembalikan pada Ibu”
“Ibu...”
Mira menatap lekat putranya. “Ibu ingin bertanya padamu.” Katanya. “Apakah kamu... menyukainya ?..”
Ghany terhenyak dengan pertanyaan blak-blakan Ibunya.
“Ibu.. Aku.. aku menyukainya—“
Mira mengangkat kedua alisnya. Ia tampak terkejut dengan keterusterangan Ghany. Namun hatinya bernyanyi gembira. Ia merasa memiliki harapan kalau kali ini putranya akan segera menikah.
“.. hanya dalam hal pekerjaan.”
Lanjutan kalimat Ghany membuat harapan Mira itu pupus tapi ia tidak mau menyerah.
“Benarkah ?.. tanyanya tidak percaya sambil menatap lekat mata Ghany.
“Ibu.. dia itu benci sekali padaku.” Ucap Ghany. “Dia tidak mungkin suka padaku.” Lanjutnya dengan nada getir.
Mira diam, menunggu ucapan Gani selanjutny.
“Sejujurnya...” Lanjut Ghany, “Aku suka dengan sikap dan tingkah lakunya. Cara bicaranya yang lepas, lugu tapi cerdas...” Ghany menghela napasnya, “Tapi...”
“Tapi apa ?..”
“Ibi.. aku sudah mengatakannya tadi. Dia benar-benar membenciku.” Jawab Ghany lelah.
“Ghan—“
“Aku permisi dulu, Bu...” potong Ghany lagi “Aku lelah.” Ia pun berlalu dari hadapan Ibunya dan masuk ke dalam kamarnya.
Mira menatap punggung Ghany sampai ia menghilang dibalik pintu. Sebuah senyum muncul di bibirnya. Ia merasa senang karena baru kali ini Ghany mengungkapkan perasaannya terhadap seorang wanita. “Aku harus memberitahukannya pada Ayah..” gumamnya senang.


***
“Kenapa kita bertemu disini ?” tanya Indra disebuah Cafe
“Maaf Ndra, kalau dirumah kita masing-masing, kan ada anak-anak kita.”
“Ada apa Mas Sam ?” tanya Ratih.
“Boleh aku tahu pendapat Sidney mengenai puteraku ?” tanya Samboedo.
Baik Indra maupun Ratih saling bertatapan. “Ehm... mengapa kau menanyakan hal ini, Sam ?..” Tanya Indra kemudian.
“Kemarin dia membicarakan mengenai Sidney.”
Indra dan Ratih tampak terkejut. “Be.. benarkah itu ?..
“Menurut isteriku begitu” jawab Samboedo. “Benar kan, Bu ?..” tanyanya pada Mira yang duduk di sampingnya.
“Benar.” Angguk Mira. “Saya sampai tidak percaya.”
“Apa yang dibicarakan oleh Ghany tentang Sidney, jeng ?..” Tanya Ratih penasaran.
“Saya bertanya apa dia menyukai Sidney...” Ucap Mira, “tapi ia mengelak dengan mengatakan dia menyukai Sidney hanya dalam hal pekerjaan saja. Tapi ketika saya terus mendesaknya...“ Mira berhenti sejenak dan tersenyum simpul “Akhirnya ia mengakui kalau ia menyukai cara bicara Sidney yang lepas, lugu tapi cerdas.....”
“Lalu.. lalu apa lagi yang dikatakan Ghany ?...” Tanya Ratih antusias.
“Lalu.. lalu Ghany mengatakan –“ Mira mencoba mengingat-ingat, “Ah iya.. dia mengatakan kalau Sidney sangat membencinya..”
“Apa..” Seru Indra dan Ratih bersamaan.
“Mengapa Ghany mengatakan seperti itu ?..” Tanya Indra
Mira menggeleng. “Ghany tidak mengatakan alasannya. Dia hanya bilang kalau Sidney membencinya lalu tidak mau membahasnya lagi dan masuk ke dalam kamarnya.”
“Ternyata anakmu yang tidak menyukai anakku, Ndra.” Ucap Samboedo.
“Tidak, Sam.. Sidney tidak membenci Ghany.” Sahut Indra
“Tapi bukankah Ghany mengatakan kalau –“
“Sam.. aku pernah bertanya tentang pendapatnya terhadap Ghany.” Potong Indra, “Dia menjawab kalau Ghany itu tampan hanya saja sayangnya dia...”
“Dia kenapa ?..”
“Dia itu sombong.”
“Anakku tidak sombong, Ndra.” Ucap Mira membela Ghany, “Mungkin mereka belum saling menyenal –“
“Benar.” Angguk Ratik. “Mungkin karena mereka tidak saling mengenal jadi sama-sama salah menilai.” Ucapnya. “Jadi bagaimana kalau usul mas Sam mengenai perjodohan untuk mereka itu kita lanjutkan saja..”
“Eh...” Seru Samboedo, Indra dan Mira bersamaan.
“Ehm... kita tunangkan saja mereka agar mereka dapat saling mengenal.”
“Tapi bagaimana kalau ternyata mereka benar-benar tidak cocok ?” tanya Mira.
“Hmm..” Ratih berpikir sejenak. “Kita beri jangka waktu 3 bulan saja.”
“Maksudmu, Bu ?..” Tanya Indra pada isterinya.
“Ya dalam 3 bulan ini kita lihat bagaimana perkembangan hubungan mereka.” Jelas Ratih. “Bila mereka benar-benar tidak cocok... ya mau tidak mau kita izinkan mereka untuk mengakhiri pertunangan itu.”
Ketiganya mengangguk setuju dengan usulan Ratih.
“Tapi..”
“Tapi apalagi sih Bu..” Ucap Indra tidak sabar.
“Tapi Mas Sam dan Mba Mira harus harus dapat mendesar Ghany agar ia mau mengantar dan menjemput Sidney bekerja. Dan pada hari sabtu dan minggu memintanya mengajak Sidney keluar untuk jalan-jalan.” Jelas Ratih “Bagaimana ?..”
Samboedo dan Mira bertatapan kemudian sama-sama menganggukkan kepalanya.
“Baiklah.” Ucap Samboedo. “Kami akan berusaha keras mendesak Ghany untuk melakukan hal-hal itu.”
“Benar” Angguk Mira “Walaupun Ghany akan menolak dan memarahi kami. Kami akan berusaha terus. Dan saya tahu caranya agar dia mau menerima pertunangan ini.”
“Baiklah karena sekarang semuanya sudah sepakat, jadi mari kita sampaikan usulan kita ini pada mereka.” Kata Indra.
“Bagaimana kalau sabtu depan kita mulai pertunangannya ?..” Tanya Samboedo. “Hanya kita berempat saja yang mengetahuinya.”
“Setuju..” Jawab ketiganya serempak.
“Kalau begitu –“
“Eh tunggu dulu, Sam..” Potong Indra “Aku mau bertanya dulu padamu, apa kamu yakin dengan langkah ini ?.. Karena tentunya anakmu ingin mendapatkan yang lebih baik, ya tho.. “
“Maksudmu apa, Ndra ?..” Tanya Samboedo agak heran.
“Maksudku, kamu kan kaya, lagipula anakmu tampan, cerdas, jadinya kan memilih yang setara dengan dia, Sam...” Jelas Indra.
“Ndra, kita sudah berteman lama sekali, dan kami tidak mau direpotkan atau dipusingkan dengan masalah status dan segala macam tetek bengeknya yang membosankan. C’mon, Ndra, kita sudah saling mengenal baik, kan enak kalau kita lanjutkan hubungan persahabatan yang sudah erat ini dengan cara menjodohkan anak kita.” Tegas Samboedo.
Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya Indra berkata, “Baiklah. Aku setuju.”
Setelah mereka setuju. Mereka membicarakan kebiasaan-kebiasaan anak mereka, supaya semuanya bisa lancar dilakukan...


***
“Apa? Aku tunangan, dengan siapa ?” tanya Ghany teriak.



bersambung

3 komentar:

  1. Mana lanjutannya nih, ghany sdh jatuh cinta tp ngga sadar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Baru juga apdet sdh di minta lanjutanny.. :p

      Maklum sifatny aja dingin bin aneh.. jd nda tahu kapan nyadarny.. hheehheheee..

      Hapus
    2. Maklum pembaca suka minta terusannya hehehe. Ghany nyangkal perasaannya sendiri

      Hapus